Penerapan Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah


KATA PENGANTAR

          Mari kita panjatkan puja serta puji syukur atas kehadiran Allah swt yang  memberikan  hidayah dan inayah-Nya kepada penulis dalam kesempatan yang mulia ini. Kita dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penerapan Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah” yang mana kita sebagai mahasiswa mampu menganalisis tentang bagaimana pendidikan budi pekerti di sekolah.

Sungguh indah karunia Allah Swt dalam memberikan kekuatan kepada penulis dalam penyusun makalah ini. Walupun masih banyak kesalahan baik dari segi konteks maupun yang lain. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Budi Pekerti.

Demikianlah dalam penulisan makalah ini maka penulis bersedia menerima saran dan kritik yang membangun dari pembaca. Penulis akan menerima  dengan tangan terbuka. Penulis berharap makalah ini bisa bermanfaat bagi yang lain.

Mataram, 19 oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

 

Cover                                                                                      

Kata Pengantar                                                                      1

Daftar Isi                                                                                  2

BAB I PENDAHULUAN                                                         3

  1. Latar Belakang                                                              3
  2. Rumusan Masalah                                                        4
  3. Tujuan                                                                             4
  4. Manfaat                                                                          5

BAB II PEMBAHASAN                                                          6

  1. Pendidikan budi pekerti dalam lingkungan sekolah            6
  2. B.   Pengaruh Seorang Guru Dalam Mengajarkan Budi

 Pekerti Ke Anak-Anak                                                                     8    

BAB III PENUTUP                                                                  11

  1. Kesimpulan                                                                    11
  2. Saran dan Kritik                                                             11

DAFTAR PUSTAKA                                                              12


BAB I

  1. A.   Latar Belakang

 

Seiring dengan berjalannya waktu dari hari ke hari. Dari masa orde baru ke masa reformasi. Indonesia sangat membutuhkan sebuah perubahan yang sangat baik. Baik dalam segi sumber daya manusia. Manusia yang mempunyai budi dan pekerti yang baik agar bisa mengolah Negara dengan baik. Bukan seperti yang kita lihat sekarang ini, banyak pejabat Negara yang tak tahu diri. Tak tahu diri yang dimaksud oleh penulis yaitu banyaknya pejabat Negara yang menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok seperti korupsi uang Negara, melakukan nepotisme atau bahkan adanya wakil rakyat yang mempunyai adab yaitu membuka film porno saat berbicara tentang rakyat. Sungguh sangat memprihatinkan pemerintah yang seperti ini. Yang lebih para lagi bahwa kurang ketegasan dari pimpin tentang kasus itu.  Mungkin mereka anggap bahwa rakyat bagaikan film porno tersebut, yang hanya bisa ditonton.

Disini dapat kita lihat sendiri dengan mata kepala kita bahwa kurangnya penerapan pendidikan budi pekerti atau mungkin banyak orang yang tidak pernah diajarkan tentang budi pekerti. Padahal kita tahu bahwa pendidikan di Indonesia setiap level selalu disertai dengan mata pelajaran budi pekerti. Juga kita mengerti bahwa Indonesia sangat kental dengan budaya yang disertai dengan adat istiadat yang mengajarkan tentang budi pekerti yang baik. Contohnya kita bisa ambil dilingkungan Sumbawa atau Lombok yang apabila seorang lewat didepan orang yang lebih tua kita harus mengucapkan “tabeh (permisi)”. Itu berarti kita harus menghormati orang yang lebih tua.

Banyak orang tua berkata bahwa sekolah merupakan sebuah lembaga yang berfungsi untuk memanusiakan manusia. Dari kata memanusiakan manusia maksudnya membawa manusia dari yang tidak mengerti dengan adat kesopanan atau  sopan santun menjadi mengerti. Dari peran tersebut juga kita harus menerapkan cara Nabi Muhammad SAW agar bisa berjalan dengan lancer yaitu seorang guru jadilah tauladan terlebih dahulu sebelum mengajarkan tentang budi pekerti. Karena jangan sampai ilmu ini diajarkan oleh orang yang mempunyai budi pekerti yang buruk sehingga menyebabkan lahir kata. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jadi sungguh tragis jika terjadi seperti itu.

Jadi kalau mau tahu bagaimana menjadi manusia yang memiliki budi pekerti yang baik mari kita duduk dengan manis sambil membaca makalah ini. Makalah yang dibilang memanusiakan manusia. Siapkah anda menjadi manusia yang seutuhnya?

 

  1. B.   Rumusan masalah

 

Didalam makalah ini penulis menyajikan sebuah rumusan masalah sebagai berikut:

  • Bagaimana pendidikan budi pekerti dalam lingkungan sekolah sendiri?
  • Bagaimana pengaruh seorang guru dalam mengajarkan budi pekerti ke anak-anak?
  1. C.   Tujuan

Penulis menulis makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana seharusnya pendidikan budi pekerti itu dalam lingkungan sekolah sehingga bisa terelementasinya dengan baik. Agar output dari pembelajaran ini Nampak dengan nyata dimasyarakat kita. Bukan hanya sekedar menjadi sebuah kurikulum belaka.

Adapun tujuan lain dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah PENDIDIKAN BUDI PEKERTI agar bisa mengikuti mata kuliah ini dengan baik.

  1. D.   Manfaat

 

Sesungguhnya dalam penulisan makalah ini penulis merasakan banyak manfaat baik secara lahiriah maupun secara batiniah. Secara lahiriah penulis merasakan bahwa betapa penting ilmu budi pekerti dalam kehidupan nyata. Sehingga terbentuknya sebuah peradaban manusia, yang selalu taat terhadap norma-norma berlaku bukan seperti yang telah dicontohkan oleh para pemimpin  ditulis dilatarbelakang diatas. Sedangkan secara batiniah penulis merasa sangat bangga ketika mengetahui bahwa sebuah peradaban yang baik berasal dari budi pekerti baik, begitu juga sebaliknya.


BAB II

PEMBAHASAN

Sebelum kita masuk ke pokok pembahasan terlebih dahulu penulis ingin menyampaikan tentang apa itu budi pekerti agar tidak ada rasa penasaran didalam benak para pembaca. Dari phrase yang terdiri dari dua kata tersebut yaitu BUDI dan PEKERTI. BUDI berarti pikiran yang jernih dan baik. Sedangkan PEKERTI berarti sebuah perbuatan. Jadi BUDI PEKERTI merupakan perbuatan yang diiringi dengan sebuah pemikiran yang baik. Perbuatan disini meliputi segala sesuatu yang berhubungan bagaimana perbuatan seorang tersebut tidak melanggar norma-norma yang berlaku sehingga tiada orang yang merasa terusik dengan hal tersebut.

Dengan kata lain budi pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupan. Namun budi pekerti meliputi segala etika, tatakrama, tata susila, prilaku baik dalam pergaulan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Sehingga menyebabkan terbentuknya suatu tatanan hidup yang beradab. Tapi sungguh mustahil apabila hal tersebut terjadi ketika perbuatan itu berseberangan dengan segala perbuatan yang mengandung perbuatan moral seperti yang tersebut diatas.

Dalam menerapkan budi pekerti di sekolah maka penulis akan mulai menganalisis dari:

  1. Pendidikan budi pekerti dalam lingkungan sekolah.

Sekolah sangatlah memberi andil dalam merencanakan pendidikan budi pekerti. Sungguh terpuji apabila sekolah tersebut membudayakan kegiatan moral dilingkup sekolah dalam arti segenap yang ada dalam lingkungan sekolah haruslah berwatak yang baik sehingga tiada kegiatan yang menjelek image sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Banyak kegiatan yang mulai melanggar kegiatan budi pekerti contoh kecil masih adanya guru dijenjang tertentu mencontohkan siswanya suatu perbuatan yang tidak terpuji misalnya marah kepada murid. Kenapa penulis bilang marah itu merupakan suatu sifat buruk Karena secara tidak langsung guru tersebut sudah mengajarkan kepada muridnya bagaimana cara marah. Mungkin sebagian besar guru mengerti bahwa salah satu sifat seorang anak merupakan suka meniru-niru orang lebih dewasa. Itu adalah contoh kecil dari perbuatan buruk yang bisa ditiru oleh anak didik.

Penulis sarankan kepada teman-teman calon guru untuk merubah cara pendekatan kepada murid, mungkin cara mendekati dengan nada sopan dan tenang. Tapi mudah dimengerti oleh murid-murid. Jangan sampai kata pepatah ini kena pada anda yaitu “Guru kencing berdiri sedangkan  murid kencing berlari.” Kalau seperti itu apakah bisa berhasil sekolah yang dinilai oleh masyarakat sebagai pusat dari pendidikan tapi malah tidak berhasil dalam mendidik murid-muridnya.

Mungkin hampir semua sekolah yang ada di tingkat nasional maupun luar negeri lebih mengutamakan bagaimana membuat murid-murid bisa memiliki adab sopan santun baik dalam lingkungan sendiri maupun dalam masyarakat sebagai tempat mengimplementasikan setiap ilmu. Contoh kecil bahwa sekolah menerapkan adab sopan santun misalnya setiap sekolah ingin menciptakan manusia yang beriman dan bertakwa,  Manusia yang taat pada aturan yang berlaku dll.

Penegasan dari ini penulis ingin bahwa setiap sekolah benar-benar menekankan tentang penerapan budi pekerti dengan baik dan benar dalam tingkatan lingkungan sekolah sebagai tempat berjalannya proses belajar. Setiap siapapun yang bertindak tidak sesuai dengan norma-norma kesopanan yang bisa menebrak pendidikan budi pekerti harus segera diperbaiki. Agar tidak menjalar ketempat lain.

Inti dari pendidikan budi pekerti dalam lingkungan sekolah ialah bahwa sekolah harus membuat aturan secara tegas tentang penerapan budi pekerti yang baik. Tidak melewati batas norma-norma kesopanan yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Namun apabila terjadi pelanggaran pihak sekolah harus memberi teguran agar tidak menjalar kepada orang lain di lingkungan itu.

  1. B.   Pengaruh Seorang Guru Dalam Mengajarkan Budi Pekerti Ke Anak-Anak

Mungkin seandainya setiap orang ditanya, “siapakah yang paling berpengaruh dalam dunia pendidikan pada lingkungan sekolah?” maka jawabannya tidak lain adalah guru. Karena gurulah yang mengatur jalannya pendidikan sebuah kelas. Dia yang memplanning sebuah pendidikan dikelas sesuai dengan kurikulum. Bahkan dia yang mengevaluasi berhasil tidaknya sebuah kelas.

Namun penulis tidak akan berbicara terlalu jauh tentang itu. Tapi penulis akan membahas bagaimanakah seorang guru bisa memberi sebuah pendidikan budi pekerti sesuai dengan fungsi sebagai guru adalah :

a)  Guru sebagai tauladan

Disini guru memberi sebuah contoh yang baik kepada siswa-siswi tentang penerapan dari pendidikan budi pekerti agar siswa mudah dalam meniru-nirunya. Guru harus mengawali pembelajaran budi perkerti harus dari diri sendiri. Namun yang diharap disini bukan hanya belajar tapi bagaimana penerapan sehingga menjadi seorang tauladan yang baik bagi siswa.

Guru yang memberi sebagai tauladan tidaklah seorang guru yang kesehariannya hanya melakukan sebuah pelanggaran norma-norma. Misalnya guru memerintah untuk berkata sopan pada setiap orang dalam berkomunikasi. Tapi lain sisi guru yang memberi arahan tersebut malah berkata tidak sopan (berumpat) kepada murid-murid. Apakah murid dari guru tersebut akan mengikuti  semua yang telah diajarkan? Penulis kira itu sangatlah mustahil. Karena segala sesuatu itu harus dilihat dari muatan. Ialah bahwa siapa yang memberi arahan baik ia juga harus melakukannya agar tiada protes dari oleh orang lain termasuk siswa.

Jadi marilah dari sekarang bagi teman-teman calon guru agar kita terapkan secara bersama pekerjaan tersebut. Biar antara ungkapan sesuai dengan perbuatan. Dan perbuatan mencerminkan diri yang berbudi pekerti yang mulia. Kalau kita tidak membohongi diri sendiri bahwa setiap individu secara naluri menyenangi kebaikan. Contoh kecil anda bisa memperhatikan seorang pencuri menasehati anaknya agar menjadi anak yang baik dan tidak menjadi pencuri. Dari contoh itu, kenapa pencuri yang sudah jelas-jelas kita tahu suatu pekerjaan buruk, tidak menyarankan anaknya untuk mengikuti jejaknya sebagai pencuri tapi malahan sebaliknya.

b)  Guru sebagai motivator

Peran guru selain sebagai tauladan juga seorang yang memberi motivasi (motivator) kepada siswa-siswi agar mereka tetap semangat dalam belajar.  Apalah jadinya apabila siswa-siswi tidak semangat dalam melakukan sebuah pembelajaran. Proses belajar itu akan menjadi tidak berhasil sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Untuk mengantipasi hal tersebut maka guru harus memompan kemauan murid dalam belajar. Mungkin dengan memberi saran-saran yang ringan namun sangat menusuk ke hati para pelajar.

Namun penulis maksud disini adalah bagaimana guru memotivasi siswa-siswi mereka agar mau mengerti tentang pendidikan budi pekerti. Mau menerapkannya pula dalam lingkungan sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat.

Guru mampu mengarahkan murid untuk bisa kearah yang baik seperti penerapan pendidikan budi pekerti. Budi pekerti yang akan menjadi suatu kebiasaan dan juga selalu diiringi oleh sebuah siraman motivasi dari guru mereka.

c)  Guru sebagai innovator

Dalam sebuah teori pendidikan ada yang mengutamakan bahwa keberhasilan itu berorientasi pada perubahan tingkah laku siswa-siswi sebagai dampak dari pengajaran. Perubahan tingkah laku seperti apakah yang diinginkan dalam pembelajaran budi pekerti. Perubahan itu tidak lain merupakan bagaimana siswa bisa menerapkan budi pekerti menjadi sebuah kebiasaan yang tidak terpisah dari dirinya.

Dari perubahan tingkah laku itu, guru akan memandangnya sebagai sebuah kesuksesan sesuai dengan fungsinya sebagai innovator. Innovasi dari pendidikan budi pekerti ialah menciptakan manusia yang mengerti tatakrama dan tatasusila dalam masyarakat.

d)  Guru sebagai evaluator

Fungsi guru yang terakhir dari pembahasan ini adalah sebagai evaluator. Evaluator sebenarnya berasal dari kata evaluasi atau penilaian. Jadi bagian ini, guru akan membicarakan tentang nilai tapi nilainya juga harus berdasarkan segi penerapan budi pekerti. Kalau boleh penulis katakan saya lebih memandang penilaian disini sebagai bagian dari innavasi (perubahan) karena nilai yang baik akan menghasilkan suatu dampak baik.

Maka setiap penilaian yang dilakukan oleh guru dalam pendidikan budi pekerti harus beracu pada sikap dari peserta didik itu. Murid akan menjadi lebih baik dari sebelum atau tidak. Jangan hanya menilainya hanya melalui hasil nilai ujian.

Pengajaran budi pekerti merupakan pekerjaan yang mempelajari tentang sikap jadi menilaiannya juga harus melalui sikap. Misalnya anak itu sudah mampu bercakap kepada orang yang lebih tua dengan menggunakan bahasa sopan,

Itulah sekilas tentang penerapan belajar budi pekerti yang diperankan oleh berbagi segi misalnya lingkungan sekolah dan juga pergaruh guru  dalam mengajarkan ilmu budi pekerti.



BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari uraian diatas penulis ingin menyampaikan sebuah kesimpulan dari pengaruh pendidikan peserta budi pekerti ialah. Budi pekerti berasal dari kata budi dan pekerti. Budi adalah suatu pikiran jernih atau baik. Sedangkan pekert adalah suatu perbuatan. Jadi budi pekerti adalah suatu perbuatan yang dikuti dengan pikiran baik.

Sedangkan dari pengaruh dibagi menjadi dua yaitu pendidikan budi pekerti dalam lingkungan  sekolah dan pengaruh Seorang Guru Dalam Mengajarkan Budi Pekerti Ke Anak-Anak.

  1. Saran dan kritik

Setelah penulis menyelesaikan makalah ini. Saya merasa sangat bermanfaat. Karena bisa mengikuti proses pembelajaran ini dengan baik. Namun penulis juga merasa bahwa makalah ini belum sepurna. Bagi siapa saja yang mau memberi saran dan kritik maka saya akan menerima dengan tangan terbuka.

DAFTAR PUSTAKA

 

……..2009.Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Budi Pekerti Di Sekolah-Sekolah. 12 oktober 2011. MATARAM:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2094267-contoh-makalah-pendidikan-budi-pekerti/#ixzz1atDe67cI

Negoro,Suryo.2008.Budi Pekerti.12 oktober 2011.Mataram: http://jagadkejawen.com/id/budi-pekerti/budi-pekerti

………….2010.PENDIDIKAN BUDI PEKERTI DAN KEKERASAN.12 oktober 2o11:matram: http://roebyarto.multiply.com/journal/item/106

Sugiyanto,lipur.2011.Pelajaran Budi Pekerti.12oktober 2011. Mataram: http://lipurs.wordpress.com/2011/06/30/pelajaran-budi-pekerti/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s